Archive for May, 2008

pattern

Posted in Uncategorized with tags on May 31, 2008 by ruthwijaya

Sedang membaca buku Mahabharata yang ditulis ulang oleh C. Rajagopalachari.
Sebelum ini, membaca Lolita – Vladimir Nabokov.
Sebelum Lolita, membaca For The Name Sake – Jhumpa Lahiri.
Sebelumnya lagi, membaca serial chicklit The Food Of Love, lupa sapa yang ngarang.
Sebelum si chicklit, membaca ulang The Lady & Unicorn – Tracy Chevalier.
Sebelum Tracy, membaca ulang GodFather – Mario Puzo.
Sebelum Godfather, membaca ulang Textile: Fiber to Fabric 6th edition!
Sebelum ‘kitab’ textile, membaca ulang draft The Patchwork yang sudah selesai.
Sebelum The Patchwork, membaca ulang chicklit Everyboys got’s one – Meg Cabot
Sebelum Meg Cabot, meneruskan baca Dracula – Bram Stolker, tapi sampai sekarang nggak selesai-selesai… iih… tinggal beberapa halaman lagi, tapi males banget emang bacanya…
Sebelumnya lagi… lupa… ini semua inget karena buku-buku itu masih ada di sisi kasur.

Hmm….
Kok bacaanku nggak jelas ya polanya? Mulai fokus aah… mulai bikin pola yang puguh aah… *pola yang puguh tuh apa sih?*

Sutralah.

Have a nice weekend eperibodeh…. *lanjut baca Mahabharata, seruuuu euy!!!*

mantra anak kos

Posted in Uncategorized with tags on May 28, 2008 by ruthwijaya

Lagi bernostalgila jaman dulu masih di Bandung dan kos di Jl Jurang, periode akhir kuliah dan awal kerja, pas keur mejeuh-mejeuhna… :lol: . Sibuk ngeceng kanan-kiri, ngelaba tanpa henti. Yaoloooh…. jaman masih muda!!
Pada masa itu, teknologi internet juga baru lucu-lucunya, chatting di mirc! Ada seorang teman yang rela nggak makan asal bisa chatting… hehehehe kalau aku kecanduannya karena bisa dapetin apa saja lewat internet, mau nyari data apapun tinggal ketik trus muncul semua… kagum banget deh tante pada masa itu… sekarang juga kok… :P aku malah nggak pernah chatting, nggak ngerti dan malas mengerti… Trus, waktu itu, kami juga belum punya hp, masih mengandalkan wartel, pager dan telpon rumah. Semua itu elemen-elemen penting untuk melancarkan usaha tebar pesona yang ujung-ujungnya berlanjut pada makan dan nonton bareng.

Saking gak pentingnya hidup kami pada masa itu *emang sekarang penting?* kami nggak punya ‘tujuan’ lain selain internet, leleponan, dan urusan perut. Kami, aku dan teman-teman se-kos, merasa hampa tanpa ketiganya. Mantra kami cuma: Warnet, Wartel, dan Warteg. Kami sampai menganggap, rumah kos kami di Jl. Jurang itu, stategis banget… karena cuma selemparan kolor dari tiga titik vital dalam hidup kami. 100 meter dari rumah kos, ada warnet, di sebelah warnet pas ada wartel, kemudian jalan tak sampai 10 meter, sudah bertemu warteg. Duuuh…. indahnya hidup ini…

Tapi, smalam aku berpikir bahwa mantra penting kami sepuluh tahun yang lalu itu, sudah jadi basi sekarang. Wartel sudah mati, semua orang punya hp, bahkan nggak cuma satu… ada yang punya 5! Gimana ngomongnya ya? Yang penting sekarang adalah tukang jualan pulsa! Lalu, warnet… hm… laptop mulai murah dan makin banyak wifi gratis… tinggal beli kopi segelas trus ngenet berjam-jam… ada blackberry pulak… mulai melambaikan tangan perpisahan deh sama warnet. Naaah, yang masih eksis mungkin cuma warteg… selama masih murah ya… hehehehe memang, urusan perut tuh nggak ada matinya. Satu-satunya bidang usaha yang menjanjikan keuntungan 100% adalah makanan*’pale loo… ape-ape mahal tapi gak boleh naik harga je…* apalagi ditambah dengan tren banyaknya acara mengenai gastronomi di tipi, waah… makin heboh aje tuh kesempatan untuk memanjakan perut. Hidup isinya jadi cuma makaaaaan aja. Jadi ingat pertanyaan kuno, hidup untuk makan atau makan untuk hidup?

Balik ke mantra nggak penting, aku jadi mikirin… kayanya seru tuh yaa… kalau dibikin sinetron dengan judul, cinta bersemi antara warnet, wartel dan warteg, hehehehe judulnya nggak banget yaa… tapi emang judul sinetron sekarang kan emang aneh-aneh… trus yang jadi pemerannya aku jugak

Hehehehe, sumpe, posting ini nggak penting banget yaa…*emang pernah gitu posting yang agak penting?*

Sutralah, tante balik kerja rodi dulu deeh…..

sakit jiwa

Posted in Uncategorized with tags , on May 27, 2008 by ruthwijaya

Seperti yang sudah sering aku bilang, aku punya problem untuk mengendalikan esmosi. Aku cepat sekali meledak marah. Semalam, si Ginko ke kos, kami masak-masak nggak puguh, mendekati akhir bulan, pengeluaran untuk jajan makan di luar dipangkas :p . Dalam satu waktu aku benar-benar senang, puas ketawa, tapi kemudian di satu titik tiba-tiba aku merasa maraaah sekali, karena hal yang sangat sepele dan kemudian ‘mengusir’ Ginko pulang. Setelah dia pulang, aku kemudian masuk kamar dan menangis. Benar-benar menangis yang keluar airmata, aaarrrgh….. ketika tersedu-sedu seperti itu, aku berpikir, apa mungkin aku sakit jiwa ya? Kok di umur yang suah mendekati uzur ini, esmosi aku kok nggak kunjung stabil. Meyebalkan. Mana sekarang mataku jadi bengkak :( huh….
Untuk mengeluarkan ‘racun’, setelah agak reda tangisnya *tsaaah* aku menelpon Ginko, yang kebingungan tiba-tiba mendengar aku nangis, nggak biasanya. Dalam percakapan kami yang nggak penting, seperti biasa, aku tiba-tiba ingat, suatu kejadian ketika aku masih SD kelas 5. Aku pernah ‘menganiaya’ seorang teman perempuan, aku masih ingat namanya Ambarwati, dia meledek aku abis-abisan, mulai dari ras, agama, fisik sampai status yang nggak punya bapak. Ledekan dia, bikin aku marah yg semarah-marahnya sampai nggak bisa ngomong, trus langsung nyamperin bangku dia, narik rambutnya yg keriting itu, meremas kupingnya yang beranting, dan jadilah kupingnya sobek kena antingnya, belum puas aku jeduk2in kepalanya ke bangku, dan abis itu aku lepas sepatuku yang model silat merek bata itu, kebayang pedesnya ya… dan aku tampar mulut Ambar, plak… plak… plak… lupa berapa kali namparnya, yg jelas gak cuma sekali, lalu aku bilang, pelan sih karena aku juga sudah pengen nangis karena marah, “mulutnya dibersihin ya” setelah itu, aku agak lupa kejadiannya bagaimana, tapi si Mamah langsung mindahin aku sekolah di SD lain. Itu adalah salah satu pertengkaran yang aku paling ingat, aku sering sekali berantem dulu (sampe sekarang juga kaleee), nggak cuma berantem mulut tapi fisik juga, sampai tonjok-tonjokan sama anak cowok pun aku berani.
Setelah Ginko mendengar cerita barbarku itu dia cuma bisa ketawa dan bilang, “gila lo”. Mungkin aku memang gila ya… gila beneran… adoooh…. aku takut nih…. emosi nggak stabil, gampang meledak dan langsung mellow untuk alasan yang sepele, termasuk juga sering ketawa untuk hal-hal yang orang lain bilang nggak lucu tapi nggak ketawa untuk hal-hal yang dibilang lucu, tapi yg terakhir itu jarang kejadian…
Arrgh…. penting nggak sih kalau aku ke psikolog ato psikiater gitu? Huhuhu… mending ke dokter gigi aja deh… sapa tau ada yang giginya rapih….
Eh, kmaren dalam percakapan nggak penting itu, kami juga membahas soal pernikahan, haiyaaah… bukan aku dan Ginko yang mau menikah, kami cuma teman. Kami membahas, pernikahan sebagai proses lanjutan dari pacaran. Aku bilang sama Ginko, “karena pacaran akhirnya nikah, maka sebelum mutusin pacaran sama seseorang neh, gw selalu memikirkan apakah gw siap dengan resiko terburuk dari hubungan kami, yaitu nikah, kalau misalnya gw nggak yakin mau berakhir dengan kemungkinan nikah, ngapain gw mesti repot-repot pacaran sama tu orang nek? Buang-buang waktu”
G: “Nggak bisa gitu bo, gimana lo mau kenal sama orang itu kalau lo nggak mau membuka diri sama dia, trus serius pacaran sama dia?”
A: “Taelah Ginko, pokona nih kalo gw pdkt sama orang, trus gw nggak kebayang kalo gw kudu menghabiskan sisa umur gw sama orang itu, ngapain mesti maksain diri untuk mengenal dia lebih lanjut? Gw mau mengenal dia lebih lanjut kalau misalnya gw siap gw mau terikat sama dia seumur hidup gw, naaah… kalaupun akhirnya pas proses pacaran itu kita putus ya nggak masalah… pokonya, menurut gw resiko terburuk dari pacaran adalah pernikahan!”
G: “Lo emang sakit jiwa kayanya Miu”

Haiyaah… balik lagi… mungkin memang aku sakit jiwa.

obrolan es campur

Posted in Uncategorized with tags on May 26, 2008 by ruthwijaya

Beberapa hari yang lalu, lagi di es campur Kabita di depan TMP Kalibata. Ginko & aku, baru pulang dari ngiter-ngiterin Jakarta.
G (menelpon seorang teman dan nggak diangkat-angkat): “Adooh, kemana sih si Rei inih? kok gak diangkat-angkat, lagi pacaran apa ya?”
A: “Iyalah… jam segindang lo telpon, ya pacaran dese, lebih penting cewenya kali daripada ngangkat telpon lo… nggak penting”
G: “Berani-beraninya dia gak ngangkat telpon gw yaa…”
A: “Sini, gw telpon deh, bagi Rei, gw kan juga cukup penting, gak kayak lo…” mencoba menelpon, tapi gak ada respon juga, “ternyata, sekarang gw juga gak penting”
G (ngakak): “Aaah… Miu… Miu… lo bikin gw seneng terus ya… puas hidup gw ketawa mulu setiap ama lo”
A: “Nggak penting kalee bikin lo ketawa”
G: “Miu, setiap orang itu penting di mata Tuhan”
A (tersedak): “Ginko, lo keracunan es sirop?”
G: “Eh, gw serius neh miu, tulis di buku jelek lo tuh… setiap orang itu penting di mata Tuhan”
Jadi, aku tulis di buku jelekku: Kata Ginko, setiap orang itu penting di mata Tuhan. Kataku, nggak penting kalee (nulisnya)….

Malahan sekarang aku tulis di blog, menyampaikan petuah bijak yang diilhami oleh es sirop susu.

SETIAP ORANG PENTING DI MATA TUHAN.

Nah… bergembiralah wahai orang-orang… meski dianggap nggak penting tapi kalian tetap penting *halah, apa seeh*. Selamat hari Senin.

bbm?

Posted in Uncategorized with tags on May 24, 2008 by ruthwijaya

Errr…. sudah naik. Ya sutra, mau bijimane lagi? Aku nggak ikut-ikutan membahas ah… gak kompeten, takut salah.
Bejini sajah, sudah lama nggak ke Polyvore, berkhayal… baiklah… nikmati saja dulu mimpi punya lemari baju + aksesoris + sepatu + tas yang nggak abis-abisnya buat dikombinasiin, dan selalu up to date.

yuuuk mariiii ngeceng tanpa henti… *halah naon sih?!*

mencintai dengan setengah kepercayaan

Posted in Uncategorized with tags on May 22, 2008 by ruthwijaya

Seringkali, orang bingung dan rancu darimana aku berasal, mengingat bahasa Sunda yang semena-mena kugunakan dengan logat Jawa Timuran yang lekoh *halah*. Dan saat ditanya lebih jauh, darimana aku berasal, aku akan menjawab, aku orang Jawa Timur, dari kota Nganjuk. Lalu ketika pertanyaan lebih spesifik tentang asal-usul orangtua dilontarkan, aku selalu menjawab, “ayah Cina dan ibu Jawa, tapi aku lebih merasa sebagai Jawa daripada Cina, karena aku nggak ngerti soal budaya Cina, lagipula aku sangat fasih berbahasa Jawa dan tidak bisa berbahasa Cina”
Aku sebenarnya, sangat membenci pengkotak-kotakan manusia berdasarkan ras, suku dan agama, tapi tanpa sadar, aku telah melakukannya dengan pembeberan asal-usul yang nggak penting banget. Mungkin, lain kali kalau ditanya, aku akan menjawab aku orang Indonesia. Tak salah kan? Meski klise dan kesannya sok nasionalis sekali. Indonesia kan memang campur-campur kan? Tak heran, sebagai orang Indonesia, aku juga kecanduan es campur :lol:
Eh, aku jadi serius berpikir, kalau nanti ada orang yang bertanya, “kamu asalnya darimana?” lalu kujawab, “dari Indonesia”, kira-kira… aku bakal digaplok sama orang nggak ya? Kamsudnya, orang jadi sebel atau nggak gitu sama aku?! Hehehehe. Kenapa mesti nanya? Ya iyalah… mesti nanya masak ya iya dong? *tssaah gak penting*
Sutralah, lupakan saja ocehan anak ayam berambut nenek sihir ini. Nggak penting menelusuri asal-usulku.
Yang penting, aku memang orang Indonesia, meski sempat tidak diakui sebagai warga negara yang bertanah air Indonesia. Penting juga untuk diketahui, bahwa aku cinta sama Indonesia. Heeeiiii….. jangan ketawa meledek, meski aku masih berbahasa Indonesia dengan tidak baik dan tidak benar, teteup kok… aing bogoh ka Indonesia… hehehehehe
Ya, cuma Indonesia satu-satunya tanah air yang aku kenal, otomatis aku cinta… meski kepercayaanku pada para pemimpinnya sudah tidak ada *upsss…. aman nggak ya ‘ngomel’ gini di blog?*
Mulai serius nih. Aku tidak bermaksud mendiskreditkan para pemimpin bangsa ini, yang sudah susah payah untuk memajukan negeri ini. Aku hanya tidak bisa percaya, itu saja. Jadi, aku percaya sepenuhnya pada negeriku, tanah airku Indonesia *tsaah* tapi tidak bisa percaya pada para pemimpinnya. Maaf. Aku terlalu kasar dan nggak mikir ya? Mungkin. Tapi mau bagaimana lagi…
Tapi tenang, hai para pemimpin bangsa, kalian tetap ada dalam doaku kok. Bukankah bangsa, negara, rakyat dan pemimpin merupakan satu paket dalam setiap doa yang dipanjatkan? Semoga, dengan bertambahnya hikmat akal budi para pemimpin, maka nurani yang dimiliki beliau-beliau pun semakin tajam, sehingga bisa benar-benar merasa, melihat dan mendengar, dan kepercayaanku mulai tumbuh lagi. Aku ingin mencintai negeri ini dengan kepercayaan penuh *ya sutrah, percaya saja sekarang, gitu aja kok repot?*

Selamat Hari Kebangkitan Nasional *iyaa… iyaa… udah telat, tapi ga pa-pa kan telat neeik, daripada kagak masuk, telat potong gaji setengah hari klo gak masuk potong gaji full sehari?! :lol: *

Indonesia, aku cinta kamu, sungguh, meski cuma dengan setengah kepercayaan.

Wine, Lisptick, Cigarette & the Girl

Posted in Uncategorized with tags , on May 17, 2008 by ruthwijaya


Gambar diambil weekend kemaren, tukang fotonya ya aku-laaah… Yang jadi focus sih maunya segelas Moscato D’Asti dessert & MAC Lipstick in Ruby Woo color. Tapi karena amatiran, jadi semuanya keambil sebagai focus :P tak apalah… yang penting pesannya nyampe.

Imej yang disampaikan, apakah hedonist? Terlalu urban? Pamer? Hura-hura gak penting? :lol: Boleh saja dianggap begitu, tak apalah… aku cuma sekedar bersenang-senang dengan obyek yang dikumpulkan secara spontan, untuk menunjukan bahwa, aku menikmati setiap waktuku.
Gambar bercerita banyak banyak tanpa perlu berkata-kata. Memicu banyak makna yang tersimpan dalam memori otak kita yang gak terlalu besar ini. Tapi, seringkali, kita memerlukan kata-kata yang lebih dari cukup untuk meluruskan makna yang kadung tersimpan salah di kepala. Aku jadi ingat Ken-nya Vega di The PatchWork, dia mengatakan pada Vega, bahwa kata-kata sebenarnya tanpa makna, kata-kata hanyalah pemicu makna yang sudah terimpan di otak. Hmmm… jadi gambar dengan banyak kata-kata sebenarnya juga tak perlu.
Tapi, bukankah kita, lebih tepatnya aku… suka menghabiskan waktuku dengan hal-hal yang tak perlu? :lol: Yaa… yaa…
Kami, aku dan beberapa teman cewe *hi girls, i’ve so much fun, let’s do it again sometime*, menghabiskan malam itu dengan keceriaan khas cewek, apalagi kalau bukan ngelenong rame-rame, mendengarkan musik, makan kudapan, menghirup ‘oksigen’ *aku cukup O2 saja :lol: *, foto-foto pakai kamera ‘beneran’ dan melengkapi kehebohan malam itu, tuan rumah menyajikan Moscato D’Asti sparkling wine yang terkategorikan dalam dessert wine. Hmmm… di otakku, kombinasi dari semua itu berputar-putar, memicu beberapa kata-kata kunci seperti: urban life, big girl in a big city, a girl without a boy, me and my lipstick. Intinya, aku agak-agak berubah jadi autis dalam berkomunikasi, karena sibuk untuk menelusuri simpul-simpul di otak tentang kata-kata dan makna. Bukan karena Moscatonya… aku cuma minum segelas lebih banyak kok, tidak ada apa-apanya dibandingkan kejadian waktu itu.

Hingga sekarang, ketika melihat foto ini lagi, aku merasa, ada simpul yang susah sekali aku buka, berkaitan dengan apa akupun masih gelisah untuk mencarinya. Ada yang bisa membantu dengan mengatakan padaku, beberapa kata kunci yang kalian ingat ketika melihat gambar ini?

Aduuuh, ini posting nggak penting lagi… dan kalian terjebak dalam teka-teki gak penting :P sebab, yang memberi teka-teki pun sebenarnya sedang bingung, apa yang mau ditanyakannya.

Sutralah… semoga menghibur *halah naon seeeh* eh, tapi beneran yaaa… kasih tau… apa sih?

PS. Ini mah, mumpung inget aja, semalem, ketika lagi ngobrol sama nyokapnya Ginko, lupa gimana asal muasalnya, aku mencetuskan kat-kata cemerlang: jaman memang sudah berubah, cewe jaman sekarang udah gak takut sama hantu lagi, dan gak takut juga sama cowok apalagi yang gak punya duit, tapi takut banget nggak punya duit. Ngerti kan kamsudku? Dan yang ada, orang-orang semeja makan bengong semua, si miu-miu ngoceh apa sih? :lol: ah… ini mah gak penting, cuma keinget aja sekalian ditulis. Hehehehehehe.

Call Me Irresponsible

Posted in Uncategorized with tags on May 8, 2008 by ruthwijaya

Michael Buble’s version


Image taken from this blog

Call me irresponsible
Call me unreliable
Throw in undependable, too

Do my foolish alibis bore you?
Well, I’m not too clever, I
I just adore you

So, call me unpredictable
Tell me I’m impractical
Rainbows, I’m inclined to pursue

Call me irresponsible
Yes, I’m unreliable
But it’s undeniably true
That I’m irresponsibly mad for you

Do my foolish alibis bore you?
Girl, I’m not too clever, I
I just adore you
Call me unpredictable
Tell me that I’m so impractical
Rainbows, I’m inclined to pursue

Go ahead call me irresponsible
Yes, I’m unreliable
But it’s undeniably true
I’m irresponsibly mad for you

You know it’s true
Oh, baby it’s true

mi jawa rasa cinta

Posted in Uncategorized with tags on May 3, 2008 by ruthwijaya

Sutress bisa ditimbulkan dari kombinasi dari pekerjaan yang membosankan & melelahkan juga menyebalkan tapi sayangnya nggak bisa keluar dan nggak boleh nyerah, lalu ada ibu yang drama queen yang sibuuuk terus nyuruh anaknya nyari pacar gak penting dan himbauan itu disampaikan dengan sederetan kata-kata nyebelin, kemudian ada mantan yang di luar dugaan *padahal sudah ge er* ternyata memang mau balikan lagi tapi sama-sama nggak berani jadi berkesimpulan lebih baik begini saja, teruuuss ada lagi bad boy yang hts nggak puguh, selain itu seorang teman baik yang masih saja sedikit ‘meneror’.
Hidup yang sama sekali tidak berkualitas, tidak menghasilkan apapun yang berguna buat orang lain. Hidup yang cuma dipakai buat ngomel. Menyedihkan, ketika hidup yang seyogyanya bisa lebih bermanfaat ini, yang sebenarnya bisa dipakai untuk bersyukur bahwa, setidaknya… si cewek nggak penting ini masih bisa melampiaskan sutress dengan cara makan! Well, apalagi yang bisa menghibur cewek jomblo gak penting selain ngelenong dan makan?!
Yang jadi favorit baru adalah Mi Semarang di parkiran gedung HS di Jl. Pancoran Timur. Ada mi rebus, mi goreng, nasi goreng, mi bihun… dimasak ala Jawa, rasa manis pedes yang makin nendang dengan sedikit bau gosong arang akibat dimasak dengan tungku bukan kompor, membuat seluruh saraf perasa di otak bekerja dan reaksi kimia yang dihasilkan mampu meredakan detakan jantung yang kemudian membuat aliran darah sedikit tenang dan… otak juga bisa berpikir sedikit lebih jernih. Tapi, dasar sutress, ketika menunggu si mas membuat mi rebus pesananku, aku malah ketambahan napsu pengen ngomel, gara-garanya dia masak sambil teteleponan. Aduuuh… aku sebal! Teknologi yang bernama handphone / hp / mobile phone / telepon genggam / hengpong *sutralah…* benar-benar ‘mengikat’ semua orang, tidak peduli lagi bekerja, lagi masak mi rebus, lagi nyetir… kayanya… hidup sekarang tidak hidup tanpa si hengpong ini, uuugh… sebagai bukan maniak leleponan, aku sebal sekali sama orang yang sepertinya tidak bisa menunda telepon untuk melakukan pekerjaan yang utama, kecuali jika itu telepon memang telepon yang peeeeentiiiiing banget. Aku sudah berniat untuk menegur si mas-nya supaya dia mengerjakan pesananku dulu, baru setelah itu melanjutkan teleponnya, namun usaha jutekku ini terhenti sebelum aku membuka mulut ketika aku mendengar dengan siapa si mas ini berbicara. Entah pacar atau entah kecengan, yang jelas mereka berbicara mesra dan saling melempar rayuan gombale mukiyo.
Aku sebal, tapi sekaligus ingin tersenyum, dan berusaha berpikir sabaaaarr… bahwa mungkin ada bagusnya si mas nelpon si cewe, dan mungkin akan berdampak bagus pada mi rebusku, karena dimasak dengan perasaan cinta. Aku percaya, bahwa makanan akan lebih nikmat jika dimasak dengan suasana hati yang baik, sedang jatuh cinta misalnya…
Setelah si mas selesai nelpon, dia berkomentar singkat pada temannya, “aku ini buaya, kok dikadalin” kemudian, dengan seperti tanpa berpikir, si temannya menjawab, “kancil saja bisa diakalin, ya buaya pasti bisa dikadalin juga”
Great! Aku tersenyum lebar dan merasa terhibur.
Dan kemudian, otakku yang cuma segede kepalan tangan ini langsung menghubungkan kata-kata itu dengan pemikiran bahwa, bukankah kita semua… aku, kamu dan dia… selalu berusaha ngadalin dan ngakalin calon pasangan sebelum resmi menjadi pasangan?! Sama seperti bunga bangkai yang menebarkan aroma ‘mangsa’ pada serangga pemangsa yang kemudian malah menjadi mangsa si bunga?! Sama seperti laba-laba yang dengan ketekunan memintal sarang dengan maksud menjebak serangga lainnya untuk kemudian diisap saripatinya hingga mati?! Sama seperti belalang betina yang menawarkan persetubuhan sebelum memenggal si belalang jantan?!
Hmm….
You are trapped! Kamu terkecoh, terjebak dan… nikmatilah hidup. Apa hubungannya? Entah, otakku masih belum bisa menguraikan simpulnya.
Tapi… tapi… bukankah kita semua memang mencari jebakan? Memintal harapan, menawarkan kenikmatan… untuk menjebak dan juga terjebak.
Sepanjang jalan menuju kos, sambil minum teh kemasan rasa dukun, pemikiran ini berputar-putar di kepalaku, membuat aku tersenyum ironis. Aaah…. hidup, betapa rasanya menyenangkan. Ada amarah, omelan tak berujung, tapi juga kenikmatan kecil berupa humor yang tak terduga.
Errr… sepertinya, aku perlu mengungsi ke tempat mas Ken sejenak, minum teh sambil makan kue kecil, lalu tidur dalam pelukannya, supaya otakku berhenti berputar-putar dalam nebula ungu untuk sejenak, dan yang terpenting, aku behenti mengomel, karena mas Ken tau benar bagaimana membuatku diam.
Ya sutrah.

Eh, apa? Mi rebusnya rasanya gimana?! Well, pedas manis dan ada sedikit bau gosong yang malah membuat si pedas manis ini medok banget, dinikmati bersama teh hangat yang wasgitel (wangi, panas, legi tur kentel) pasti akan membuat penikmatnya merasa seperti pulang kampung, tengah malam kelaparan dan dimasakin sama si ibu yang drama queen. Tapi, kalau males bikin teh yang wasgitel, teh rasa dukun juga boleh… sedikit lebih masa kini rasanya.