Archive for August, 2008

diem… karepe diem*

Posted in Uncategorized with tags , on August 26, 2008 by ruthwijaya

*artinya: maunya sih diam… plesetan dari carpe diem - tau deh… apa itu artinya… :lol:

Beberapa hari ini, aku sedang bingung, sedang teu pararuguh *selalu*. Semoooga… semooogaaaa… apa yang sedang berbinar sekarang ini, bisa menjadi jawaban, aduuuuh… belum bisa ngasih tau apa… jadi kesannya sok misterius… :mrgreen:
Ini cuma mengomel bin menyampah.
Semoga saja, iya semoga… doakan saja… nanti hari Jum’at ini, aku mendapat kepastian tentang bagaimana seharusnya merencanakan masa depan itu. Dapat jaminan bahwa sebelum mencapai 30 tahun, sudah kebeli itu rumah idaman…
Ya Tuhan, aku nggak minta banyak… nggak minta suami kayak Keanu Revees… cuma minta kelancaran aja soal ‘itu’ saja, tapi kalo Tuhan mau ngasih bonus suami yang kayak Keanu Revees (dalam hal gantengnya juga duitnya) aku menerima dengan sepenuh hati, penuh keikhlasan… *plaaak*

Doakan aku ya teman-teman….

Sekarang balik semedi dulu.
See you when I see you again *halah*

(dan) si jalang pun tetap berbahagia

Posted in Uncategorized with tags on August 22, 2008 by ruthwijaya

Haaaaaiiiii semuwaaa…. jumpa lagi…. dengan maisi disini…… *nyanyi lagu anak-anak taun jebot*
Hehehehe nggak penting.

Aduuh masih males yaa… masih pengen libur teyuuus… padahal ini sudah empat hari masuk kerja setelah tambahan libur di hari senin. Heeei…. aku masih masuk hari sabtu, setengah hari sih… tapi tetup aja, bikin males!
Liburan kemarin, ketemu beberapa teman dan bergosip soal cerita yang hangat di Bandung, ada salah satu orang kayaaaaa banget di Bandung yang berusia sekitar akhir 40an, bercerai sebulan yang lalu dengan istrinya dan minggu lalu menikah dengan seorang gadis muda berusia 20 tahunan… Hmm…. tidak ada yang salah sih dengan pernikahan itu, tidak ada yang tahu soal cinta. Tapi meski demikian, tetap saja lajang jalang macam kami ini senang berdiskusi nggak penting soal itu, sebab konon katanya, ibu si gadislah yang sengaja menjodohkan putrinya dengan pak tua yang kaya, emang belum tua sih, tapi dibandingkan umur si cewek abg itu… emang tua kaan….
Pembicaraan ngalor ngidul – ke barat juga timur setelah dari utara dan selatan, sampai pada satu ucapan ngawurku yang memang semua orang sudah tahu, “tapi emang bener kok… gw setuju kalo kawin itu mending pake duit bukan pake cinta, hidup sekarang mahal. Lagipula, kayanya lebih murah investasi buat dana pensiun daripada investasi ke anak, belum lagi soal tanggung jawab mendidiknya… aduuuuh”
Naaah…. bukan berarti aku tak mau kawin dan punya anak, wah… amit-amit deh *ketok-ketok meja tiga kali*. Kalau ada jodoh, tentu saja aku mau kawin dan beranak pinak, sesuai dengan kodrat, tapi misalnya jodohku terlanjur memilih untuk jadi gay, gak napsu lagi sama aku… :mrgreen: ya paling nggak aku sudah punya plan b, yaitu punya dana pensiun. Eh, aku kok kayak orang jualan asuransi masa tua ya? Nggak, aku nggak jualan, ini cuma mikir ngawur aja.

Dan aku pikir-pikir lagi *masih teteup ngawur meski agak waras*, sampai sekarang aku belum bertemu si belahan jiwa atau mungkin sudah bertemu tapi tidak menyadari kalau si dia adalah belahan jiwa, mungkin karena aku masih punya pemikiran seperti itu ya? Berpikir bahwa pernikahan itu adalah mahal *duuh*, beranak pinak itu resikonya besar dan aku masih takut untuk melepaskan hidup yang jalang dan penuh hura-hura nggak penting ini.
Dengan hidup lajang lagi jalang sajah aku suda berbahagia, kenapa mesti ngotot untuk menikah, yang mana resikonya tak bisa diukur? Apakah akan makin bahagia atau tetap berbahagia atau malah tidak menginginkan kebahagiaan lagi?

Whohohohoho…. jangan samapai si Mamah tau aku sempat berpikir seperti indang… aku nanti bisa digantung di pohon toge dengan kaki diatas sama dese. Sumprita mak… ini bukan berarti aku nggak mau kawin… mau banget maak… apalagi sama mas Ken – Keanu Reeves, yah melesetnya sama Tomi Simatupanglah…. *plaaak*

Mungkin, entah itu besok, entah itu lusa, jika ketakutan-ketakutan soal resiko itu sudah mendapatkan pencerahan, dia, si pria yang beruntung itu, akan datang. Hmm… bisa jadi dan semoga ini memang pemikiran waras untuk berubah lebih waras. Kan kudu waras dulu sebelum membuat gila orang lain…

Ah… sutralah

baik… baik… baaaiiiiiik…

Posted in Uncategorized with tags , on August 16, 2008 by ruthwijaya

Semua orang pengen dibilang orang baik, kayanyaaa sih… Aku dulu juga begitu, ngotot banget buat jadi orang baik, jadi orang yang selalu diterima di pergaulan. Itu waktu aku masih mudaaa. Untungnya, nggak sampai memaksakan diri mati-matian buat jadi orang baik, cuma memang aku berusaha terlalu keras.
Lama kelamaan aku mulai menyadari bahwa, kebaikan yang aku maksudkan, tidak sesuai dengan kebaikan yang diinginkan oleh teman-teman di lingkunganku. Apa yang aku anggap sebagai bentuk keterusterangan, merupakan komentar nyinyir. Apa yang aku anggap sebagai bantuan ikhlas, berubah makna menjadi omong basa-basi. Tentu saja, ini sempat membuat aku, yang memang pada dasarnya tipe ’suka-suka gue’ menarik diri secara drastis dari pergaulan dan menganggap semua manusia itu munafik dan buat apa berbuat baik sama orang lain? Toh, aku juga nggak perlu minta makan sama orang-orang itu. Hmm… itu sekitar periode aku SMP lah…. Namun hidup mengajarkan banyak hal yang mengakibatkan perubahan beberapa nilai yang kuanggap benar saat itu.

Dan ada juga nila-nilai yang tetap tidak berubah, seperti… aku tetap berkomentar terus terang sekaligus jujur, meski itu dianggap nyinyir.. :mrgreeen: apa boleh buat, nyinyir sudah menjadi bagian dari karakter. Bagiku, kebaikan adalah keterusterangan meskipun itu nyinyir dan nggak enak didengar, itu jauuuuuh lebih baik daripada kebohongan yang bersuara merdu juga berlumur madu *tsaaah*. Jelas, karena terkadang aku ‘nyinyir’ maka aku juga tidak berkeberatan untuk mendapatkan ‘balasan’ nyinyir darii orang lain. :lol: . Mungkin memang dia berkamsud baik atau memang beneran bermaksud nyinyir yang negatif. Aku tidak peduli. Aku percaya karma. Ucapan, perbuatan… itu seperti bumerang yang selalu kembali pada pelemparnya. Lagipula, bukankah hidup sudah mengajarkan, bahwa kebaikan itu relatif. Kebaikan itu, abstrak ukurannya, buat aku baik, belum tentu buat yang lain baik. Ya sudah. Tidak perlu memaksakan kebaikan yang seragam, menurutku. Kalau aku niatnya baik keterima tidak baik, ya maaf. Aku tidak hendak memaksakan tindakan baik harus selalu mendapat apresiasi baik.

Aduuh… ini kok seperti aku sedang membela diri ya? Hehehehe nggak ada apa-apa, nggak ada kasus apa-apa, ini aku cuma kepikiran sama kata-kata: baik. Seperti apa kebaikan, dan harus bagaimana untuk menjalankan kebaikan.
Tapi kebaikan saja tidak cukup untuk membeli surga juga bahagia, errr… lagi-lagi ini teori ngawurku. Emh, jadi inget Tante Kemang, “lo kate surga murah? Modal senyum doang?!”

Baiklah, daripada makin bingung, udahan aja aaaah…..

Tambahan, ini nih, pemikiran yang selalu bikin aku nggak kelar-kelar posting. Pemikiran tiba-tiba soal penggunaan kata baik dalam kalimat: baik, akan saya kerjakan – - saya kerjakan baik-baik — baiklah, saya kerjakan — errrrr….. aku dulu bolos kemana sih waktu pelajaran Bahasa Indonesia?

Baiklah, lebih baik aku mengucapkan selamat berakhir pekan sajah… terimakasih dan sampai jumpa.

jin agustus

Posted in Uncategorized with tags on August 14, 2008 by ruthwijaya

Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku
di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku,
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku… marilah kita berseru… Indonesia bersatu.

Hiduplah bangsaku, hiduplah negeriku, bangsaku rakyatku semuaaaaanyaaa
bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Rayaaaaa

Indonesia Raya, merdekaaa. merdeka
nanananananaaaaaaa???*

Aku lupa syair Indonesia Raya! Astagaaaaa, udah gak pernah upacara lagi ini.
Jangan-jangan lupa Pancasila juga. Mari dicuba…

Pancasila
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan (?) *naah gak yakin nih*
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Maap… bener kan… ada yang lupa. Pantes… aku pernah gak diakui sebagai WNI. Nah, kalo gak apal Indonesia Raya sama Pancasila begini, begimana mau daftar jadi caleg yaak?
Artis bukaaan…. Indonesia Raya sama Pancasila aja gaak apal…. paling gak, klo aku artis, dimaapkanlah yaa… klo gak apal begituan ituh… pan banyak kesibukan… lha ini… buruh doang bisa kagak apal… hehehehehe
Kalo UUD ‘45, aku hapal gak ya? Jelas… pasal-pasalnya aku nggak hafal, tapi kalau pembukaan?! Hmm… sebagai pembaca pembukaan UUD ‘45 sejak sd sampe sma, mari kita tes memori yang berkaitan dengan kebangsaan yang sudah berkarat inih.

Undang-Undang Dasar, Negara Republik Indonesia, tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima
peeembuka-an
Bahwa, sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia, harus dihapuskan. Karena, tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.Dan atas berkat rhmat Allah SWT, perjuangan kemerdekaan Indonesia, telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa, mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan yang berdaulat, adil dan makmur….*

eeerrrr….. lupa juga. Memang memori kebangsaan aku sudah berkarat ini…. hmm… dulu di sd, rajin banget ngapalin itu semua, ditambah buti-butir Pancasila, ditambah pasal-pasal UUD 45… apalagi kalo mau ujian…. wuaaaduh… komat-kamit baca mantra deeh… gak tau tuh anak sd sekarang ngapalin begituan gak yaa?

Hehehehehe, emang penting ya? Hmm… nggak tau penting apa nggak, tapi aku jadi keinget itu semua waktu kmaren melihat The Journal of World Choir Games di Graz – Austria, dimana Elfa’s Choir berhasil memenangkan 2 kategori. Pas lagu Indonesia Raya dikumandangkan, kok aku ikutan termehe-mehe jahe yaak…. Nasionalisme terbangkitkan… *halah!*

Semoga, tim bulutangkis Indonesia, juga pulang membawa emas, dan ketika disiarkan di tipi ada merah putih yang berkibar di seluruh penjuru dunia… hihihihihi… kenapa sih aku ini? Nggak tau deh… kesambet jin agustus ini kayaknya…. bentar lagi paling aku juga mikirin lomba makan kerupuk dan panjat pinang…. hiahahahahahaha

*syair & teks ditulis tidak sesuai tanda baca yang benar, karena memang ditulis berdasakan ingatan yang bapuk serta nyanyian dengan nada yang jelas fals

rasa hormat

Posted in Uncategorized with tags , , on August 12, 2008 by ruthwijaya

Apa aku salah, kalau aku kehilangan rasa hormat ke salah satu senior di kantor, gara-gara dia tidak bisa menjadi senior yang baik?
Hm… gini, kata dia, kalau aku bertanya soal permasalahan dalam kerja, aku harus memberikan alternatif solusi untuk permasalahan tersebut. Kalau aku tidak datang dengan solusi, berarti aku tidak punya inisiatif.
Aneh nggak?
Aku bilang aneh, karena kalau aku bertanya itu disebabkan oleh 2 hal:-
1. Karena aku memang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut. Semua pilihan yang aku punya, menurutku akan membawa dampak yang cukup merugikan. Makanya, aku datang ke senior untuk meminta bimbingan. Aku bukan malas berpikir tetapi memang sudah tidak bisa berpikir. Tolong dibedakan ya.
2. Karena level aku sudah tidak memungkinkan untukku mengambil keputusan, apalagi jika itu berkaitan dengan resiko uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akibat keputusanku. Misal, untuk komplain di bawah / sampai dengan USD 500, aku bisa mengambil keputusan, apakah itu akan dibayar atau ditolak, apakah pembayaran komplain bisa langsung dibayarkan atau dibayarkan di order berikutnya, nah… untuk jumlah di atas USD 500, tentu saja, aku harus minta persetujuan senior untuk meminta persetujuan bukan? Ini misalnya yaa…. contoh. Dan jelas, sebelum meminta persetujuan, aku sudah mengajukan saran dan opini-ku atas suatu kasus tersebut. Tapi, lagi-lagi… bukan levelku untuk memutuskan. Aku ini kan cuma keset di perusahaan ini, cuma buruh.

Intinya, menurut dia aku tidak punya inisiatif.

Mari kita lihat siapa yang tidak punya inisiatif. Siapa yang sebenarnya amatiran.

Ketika satu calon pembeli datang, apa yang anda lakukan? Anda hanya berkata, “mereka sepertinya benar-benar mau beli ke kita ya”. Dan yang aku lakukan, sebgaia standar prosedur kerja yang aku tetapkan sendiri, adalah, segera bertanya ke jejaring sesama buruh tekstil juga paman gugle, menyelidiki latar belakang finansial, target market mereka, dan apa yang menjadi produk andalan mereka. Kemudian menyiapkan presentasi produk sesuai dengan data yang sudah dikumpulkan dan menyiapkan produk lain sebagai ‘dessert’.

Aduuuh…. aku paling benci mengungkapkan fakta-fakta yang sepertinya hebat tapi sebenarnya malah bikin aku kelihatan buruk ini.

Aku selalu menganggap, bahwa orang yang merendahkan orang lain itu adalah orang yang sedang merendahkan dirinya sendiri. Dengan mengungkapkan cerita *cuma satu contoh, tapi ada banyak hal lain sih sebenernya* yang membuat sang senior terlihat bodoh, bukankah aku sedang membodohkan diriku sendiri?!

Arrrrgh…. maaf. Tetapi, aku memang sudah kehilangan rasa hormatku kepada anda sebagai seorang senior. Maaf, aku memang masih junior, masih buruh, masih keset… tetapi aku terlanjur punya nilai-nilai, etika-etika yang seharusnya menjadi standar seorang senior-dianggap-senior itu seharusnya seperti apa.

Maafkan aku. Dan mari… kerja lagi…. ayoooo… buruh yang tak punya inisiatif, kita kerja lageeee!!!

ijo & pink, sama-sama jedhang!

Posted in Uncategorized with tags , on August 8, 2008 by ruthwijaya

Si Tini lagi lagi ngutekin kuku kaki dengan warna ijo jedhang – Pantone 16-0233 TP deh, sembari menunggu kuteks kering, lalu ngutekin kuku tangan dengan warna pink jedhang – Pantone 17-2033 TP. Mendekatkan keduanya sambil bertanya ke si Tono.
Tini: “Tono, liat deh… kuku kaki aku warna ijo, tangan warna pink, kontras banget ya… lucu gak sih?”
Tono: “Hm… emh….. emh….”
Tini: “Agak norak sih emang… ini ijo jedhang satu lagi pink jedhang… intesitas warnanya sama kuatnya… memang norak sih… menurut kamu, kalo aku pakai dua-duanya, bagaimana? Kayak penyanyi dangdut gak?”
Tono: “Emh…..”
Tini: “Tapi sebenernya… oke juga sih ya kalo pede, ijo ama pink, menurut kamu?”
Tono: “Emh…. emh…”
Tini: “Iya kan?! Lucu kan… sama-sama glitery gold dan kontras aja… matching kalau pake pigment eye shadow accent red sama golden lemon”
Tono: “Ilmuku belum sampe kesitu”

Afghanistan dan pengejar layang-layang

Posted in Uncategorized with tags , on August 7, 2008 by ruthwijaya

The Kite Runner

Baru baca sampai halaman 264, tapi meski baru setengah, mataku sudah bengkak akibat menangis sesenggukan membaca separuh pertama buku ini. Aku memang drama queen, maunya sih dancing queen… tapi ya apa boleh buat… yg penting ada queen-nya… :mrgreen:
Yak.. pokus kembali ke Kite Runner.

Selama ini, aku tidak tertarik untuk mengenal Afghanistan, karena terlalu pilu, perang terus menerus dan terkenal sekali sebagai kawah candradimukanya para teroris, maaf, aku memang gak ngerti apa-apa soal ini, memang suka menyimpulkan aja. Nah, karena itulah aku menghindari apapun soal Afghanistan, termasuk cerita yang bersetting Afghanistan, takut sedih. Entah kenapa, buku ini menarik hati, ya sutralah embat aja… daaaan… beneran kan…. bikin nangis… Ceritanya, soal persahabatan… antara Amir & Hassan, majikan dan pelayan. Hassan adalah pelayan Amir. Meski bersahabat, Amir tidak pernah menganggap Hassan temannya, meski ya… ia satu-satunya teman yang paling mengerti Amir… aduuh… bahasaku berlibet.
Aku nangis sesenggukan ketika Amir, melihat Hassan diperkosa dan Amir memutuskan untuk lari, menjadi ‘pengkhianat’. Cara penceritaan Khaled Hosseini yang tersusun rapilah yang bisa membuat airmata itu berderai-derai. Emosi dibangun dengan apik sekali. Salut! Aku sering menangis karena baca buku dan nonton film, tapi belum pernah nangis sekejer ini, bahkan menuliskannya lagi… membuat airmata mengambang di pelupuk mata *tsaah*, aku mengingat nyeri dan kekosongan yang berasa berat yang menekan tenggorokan ketika membacanya. Aku juga menangis waktu Hassan & Ali ayahnya, pergi meninggalkan rumah Amir karena ‘difitnah’ oleh amir yang tak tahan berdekatan dengan Hassan, mengingat ia telah ‘mengkhianati’ pelayan setianya itu, waktu Amir melempari Hassan dengan buah delima, berharap Hassan menghukumnya karena meninggalkannya. Waktu Ayah amir akan meninggal dan melakukan kewajiban terakhirnya menikahkan Amir … Baba membasahi rambutnya dan menyisirnya ke belakang. Aku menolongnya mengenakan kemeja putih bersih dan mengikatkan dasinya, mau tak mau melihat kekosongan selebar 5 cm di antara kerah baju dan leher Baba. Aku memikirkan betapa besar ruangan yang akan menjadi kosong karena ditinggalkan oleh Baba jika saatnya tiba nanti, dan aku segera mengalihkan pikiranku. Baba tidak akan meninggal. Tidak sekarang. … dan tangisku semakin meledak. Lalu berhenti baca karena lelah menangis… hiahahahaha emang, aku berlebihan… tapi sekarang mataku bengkak, sebengkak-bengkaknya.
Aku baru sampai halaman 264, belum tahu apa yang akan terjadi pada Amir yang nuraninya tersiksa karena tidak berani menyuarakan ketidakadilan dan hinaan yang terjadi atas pelayan setianya. Apakah Amir bertemu kembali dengan Hassan dan meminta maaf kepadanya atau tidak, aku juga tidak tahu. Nanti kalau sudah selesai baca aku cerita lagi. Review yang beneran… :mrgreen:

Tapi yang mengganggu sekarang adalah: nurani, rasa bersalah yang merupakan indikator hati nurani masih berfungsi dengan baik. Hati nurani yang menjadi satu-satunya harta dari mahluk hidup yang disebut manusia.
Seorang senior pernah berkata padaku, “berbuat dosa, berbuat jahat itu adalah kebiasaan me-non aktifkan hati nurani. Saat pertama berbuat dosa, pasti nurani kita berteriak-teriak dan meminta kita untuk berhenti melakukan kesalahan dan bertobat, tapi kebebalan membuat kita menulikan ‘telinga’ dari jeritan hati nurani dan lama kelamaan, kita memang sudah tidak bisa mendengarnya berteriak-teriak lagi”.
Hmm… memang iya… alah bisa karena biasa. Kebodohan untuk terus hidup dalam kesalahan karena kita ‘menulikan’ telinga kita. Dan Amir berusaha menulikan telinganya, berusaha membohongi hati nuraninya bahwa Hassan adalah pengorbanan, tapi dia tahu, dia menderita seuumur hidupnya. Nuraninya masih berfungsi dengan baik.

Aduuh… kok aku sedih lagi… juga merasa bersalah ini, karena mencuri waktu kerja dengan blogging… hiahahahaha berarti nuraniku sebagai buruh teladan masih bekerja dengan baik.

laki-laki yang ini…

Posted in Uncategorized with tags , on August 2, 2008 by ruthwijaya


*menenangkan deburan jantung yang gegap gempita*
Ini adalah laki-laki yang bikin aku terkiwir-kiwir, Tommy Simatupang teaaa…. Beneeer kaan? Nggak guaaaanteng uleng-ulengan, tapi bikin meleleh… astagaa… kenapa perut melilit yaaa?! hihihihihi…. pejimana aku bisa nyanyi dangdut dengan gaya tarian sinchan kalau deg-degan dan mules tralala bejini?!

Oke… oke… jadi sebenernya siapa si Tommy Simatupang indang?
Thomas Aquino Arif Setiawan Simatupang was born in Yogyakarta, Indonesia, but he grew up also in Germany and the Netherlands. He mainly plays guitar and drums but also picks up other instruments quite often. May it be for his own projects, or for other bands and musicians. 2001 saw the Indonesian German, like so many young musicians, searching for his identity in Berlin where he spent much time playing Jazz music before meeting other young songwriters and learned to “hear” good english lyrics. Now the 27-year old writes himself “Tomi” and is continuing his search for identity in his birth-city where he learns about traditonal Javanese culture including music, farming and education.

Kemarin ditanya sama Dhyta, “kalo giginya gimana?”, naaa… giginya… seingatku sih oke kok. Yang penting gak tonggos ampun-ampunan :mrgreen: , lagipula untuk laki-laki ini, gigi jadi bukan prioritas, tangannya lentik! Waktu main sitar, yaoloooh….. pokonya… oke daaah!
Aduuuh…. knapa kmaren ngebahas si laki-laki ini ya? *nepuk-nepuk kepala biar agak waras* Dhyta Purplerebel, lo kudu tanggung jawab!!
Semalem aku mimpiin Tommy… huhuhuhuhu… bukannya aku tak cinta lagi sama Mas Ken, tapi laki-laki bergigi bagus (meski gak yakin, tapi kalopun gak juga gpp), bertangan lentik, malu-malu dan kurus seperti Tommy ini memang bikin termehe-mehe jahe abis-abisan…

Dan, si Tommy ini keren banget deh… cek ke Myspace-nya Tommy dan site-nya film dokumenter(?) Berlin Song, yang akan rilis September ini di Jerman.


Ini albumnya Tommy, Blame It On Your Monkey… errr… katanya lebih macho kalo gondrong, tapi bejini pun sutra bikin tante kelepek-kelepek

All Tommy’s pics & information about him, taken from Berlin Song website

VOTE FOR DINDA

Posted in Uncategorized on August 1, 2008 by ruthwijaya

Teman-teman….
Kali ini, beneran yaaa…. vote buat Dinda a.k.a Tifa

Klik disini untuk voting.

Terimakasiiih….. jangan lupa, sebanyak-banyaknya….

yelllowwwww

Posted in Uncategorized with tags on August 1, 2008 by ruthwijaya

Aaaaaaa…..
Aku balik lagi ke Jakarta…. Sejak Senin sampai kemarin aku ada di Bandung. Ngapain? Kemarin sih kerja tapi cuma sehari doang, sebelumnya…. LIBURAN!!!! :mrgreen: yaaa bijitulah…. ceritanya… ntar lah yaaa….. masih jetlag… *halah jeglak kaleee*