a life’s journey…

March 8, 2008

about…

Filed under: crispy snacks (kriuk!), serius gak penting — ruthwijaya @

Alesan ngeblog kali ini, karena kena tag dari Worsky Pompidou di The Paradono’s… tuuuh kan… anak FD jugak… :lol:

I’m passionate about
Make Up, mostly eyes area. Seriously consider to take professional course.
Shoes, under developing my-side-income-business related to this.
Food
Books (always)
Cowok ganteng dengan senyum manis dan gigi rapih. do you need any explanation related to this? Emh….

Mostly I say
Halah
Ngerti gak lo maksud gw?
Kamsudnya apa? Kamsudnya?
Naon sih?
Gak puguh pisan…

I’ve just finished reading
Mistress of Spices - Chitra sumthing-gw-lupa
re-reading Omerta
Drunken Monster - Pidi Baiq
re-reading Every boys got one’s - Meg Cabot
re-reading The Lady & Unicorn - Tracy Chevalier

InsyaAllah before I die, I want to
Kawin dan beranak pinak :mrgreen:
publishing my novel
pergi ke new york & Italy

I love listening to
All kind of jazzy
All kind of boys band
All kind of ‘girl power’ music
All kind of music… *gak puguh*

What my friends like about me
Emh… aku keren kali ya? Gaya? Anyone? Ya.. yang di pojok sana… apa mbak? Coba lebih keras ngomongnya…. apa? Karena aku berkepribadian ganda? Alasan yang aneh….

Last year I’ve learned
Pasrah & bersyukur.
Take the risk & doing mistake.

If it’s not too much trouble, I want to tag
Opi
Ari Feliz-ku
Tukang Ketik
Morishige
Ibu Enny
Jeng Gita

Worsky Pompiii….. tx ya, udah ngasih alesan buat ngeblog :mrgreen:

March 1, 2008

tolol berulang tapi juga beruntung…

Kemaren, aku pergi ke acara peluncuran buku seri kuliner yang ditulis beberapa dedengkot milis Jalan Sutra. Tadinya, mau pergi bareng dua JSers Bandung yang datang juga ke acara ini, tapi sayangnya, acara berubah dan yang berjalan akhirnya plan E :mrgreen: . Jadinya aku pergi bersama miu-miu tersayang. Dan, sangat membantu, Jakarta yang hujan dan pasti macet, tidak menghalangi aku untuk datang tepat waktu, yaaaa… meski ribet, mesti pake jas hujan, bawa sandal dan sepatu dibungkus plastik *kayanya mesti beli boot anti aer neh* tapi aku teteup senang. Nggak kesasar, nggak lama di jalan, sehingga datang tepat waktu.
Dan setelah acara, akhirnya aku & 2 JSers Bandung, pintong ke Grand Indonesia, hihihihi, kalo di Bandung, kami pasti pintongnya ke warung bandrek tuuh, berhubung di Jakarta, supaya tidak gegar budaya, ya sutrah, pintong ke mall. Dengan alasan kepraktisan, miu-miu, akan aku tinggal parkir di Miranda, kemudian aku ngikut mobilnya temen. Ketika beres-beres barang yang pathing kranthil, barulah aku nyadar bahwa kunci motorku gak ada! Waaduh! Aku langsung teringat ketololanku yang lampau, seketika aku lari ke depan untuk melihat miu-miu. Daaaaan…. benar sekalski saudara-saudara….. itu kunci motor masih menggantung di motor selama dua jam sajah!
Pffiiiuuuh! Setelah mengambil kunci, aku malah gemeteran. Kagetlah… miu-miu nggak punya asuransi karena beli cash, ngumpulin duitnya dengan perjuangan gak jajan-jajan *hiperbola* dan kejadian kunci tertinggal lengkap dengan stnk yang dimasukan ke dompet kunci ini, sudah terjadi untuk ketiga kalinya! Dua kali di Bandung, dan yang terakhir di Jakarta, parkir di pinggir jalan, yang tukang parkirnya gak liatin.
Aduuuuh… makasih banget ya Tuhan, miu-miuku udah dijagain… Ups… emang Tuhan bodyguard apa?! Jadi inget dulu, kalau berdoa bilang, “Tuhan jagai aku, aku mau tidur” trus si mamah bilang gini, “enak aja kamu tidur trus Tuhan suruh jagain, emang Tuhan bodyguard apa?!” :mrgreen: aku tau, kamsudnya mungkin bercanda…
Tapi, beneran loh… mau tak mau, aku mesti bilang bahwa, aku punya ‘Bodguard’ yang t.o.p b.g.t pisan…. dan… tentu saja, aku bersyukur banget untuk hal itu. Miu-miu hanyalah salah satu contoh, ada banyak ‘rejeki’ku yang terjaga dengan baik.
Thanks ya Boss….
*iyaa… aku minum gibolan abis ini, tapi boleh gak sekalian aku minta… tolong upgrade kapasitas otakku dong Boss…*

January 8, 2008

Yesus yang kukenal

Filed under: 0 level, crispy snacks (kriuk!), serius gak penting — ruthwijaya @

Lagi baca buku Dinasti Yesus. Buku ini ditulis oleh James D. Tabor, seorang ahli kitab suci sekaligus sejarawan dan arkeolog, emh, kurang lebihnya begitu. Meskipun judulnya agak-agak provokatif dan fiksi, sebenarnya buku ini lebih merupakan laporan ilmiah tentang hasil penelusuran sejarah yang dilakukan Dr. Tabor di Israel. Dalam kata pengantarnya, Dr. Tabor mengatakan bahwa buku ini nggak ada kaitannya dengan iman dan kepercayaan, hanyalah bukti-bukti sejarah dan penelusuran makam-makam saudara-saudara biologis Yesus yang dilahirkan dari rahim Maria. Dr. Tabor penasaran mengenai latar belakang sosial & budaya yang membentuk Yesus hingga menjadi Yesus seperti yang dituliskan oleh Injil. Dan, aku juga penasaran. Sudah sejak dulu aku selalu penasaran, seperti apa sosok Yesus yang hidup pada saat itu, saat aku masih nggak tau ada dimana. Secara iman, aku percaya Ia tetap sosok yang sama hingga saat ini, tapi tetap saja, aku ingin tahu seperti apa Ia pada saat itu.
Ketika membaca buku ini, aku teringat terus sama buku yang pernah aku baca, kalau nggak salah karangan Max Lucado, judulnya Jesus that I know, aku agak-agak lupa, soalnya bukunya minjem dan bacanya udah bertahun-tahun yang lalu. Di situ, Max bilang, mungkin saja dulu Yesus sumbing, sehingga orang males mau ngedengerin dia ngomong. Bisa jadi Yesus pendek dan jelek, sehingga dia ditolak. Cuba mungkin kalo si Jesus ini ganteng dan sesuai seperti James Caviezel di film the Passion of christ, mungkin banyak orang percaya bahwa Dia adalah Mesias yah?! Di buku itu juga mengibaratkan bahwa Jesus dari Nazareth ibaratnya sama seperti Jesus dari Bronx… nggak banget dia tampil sebagai Mesias. Di buku yang aku baca sekarang, Dr. Tabor memperlihatkan situs azareth kuno pada jaman Yesus…. hm… aku mengkhayal lagi.
Dan ternyata…. aku mules, sakit perut loh…keinget lagi sama keabadian…. doooh….

Eh, ini bukan khotbah ato apa lah ya…. cuma lagi muter-muter aja ini di otakku…

November 26, 2007

bangga menjadi Indonesia

Filed under: menyampah, serius gak penting — ruthwijaya @

Sabtu & Minggu kemarin, aku dengan tak tahu malunya betah ngendon di acara Kenduri Kuliner Nusantara, berpanas-panas ria di stand Jalan Sutra, baru tahu ternyata mesti daftar jadi volunteer dulu baru bisa bantuin :P tapi ya itu tadi… aku gak punya malu banget, ngendon gitu aja… ngobrol seru sama anak-anak yang lagi jaga… selain itu, stand JS depan-depanan sama Mi Ameng Pontianak yang enak… hehehe gak penting banget yak…

Yang rame kami bicarakan kemarin adalah tentang malingsia… hohohoho… tetangga kita yang satu itu, yang pede banget mengakui kebudayaan dan kekayaan gastronomi tetangga dekatnya. Kan si malingsia ini nggak cuma bermasalah dengan Indonesia sajah, tapi Philipina, Thailand & Singapura juga.
Salah seorang teman bilang, “gue penasaran loh, reog itu kan pake bahasa jawa, nah orang malingsia manggungga gimana ya? Apa cuma menggumam gitu? Trus nyindennya gimana yak? Apa cuma menyen-menyen gitu yak”
Yang satu lagi menambahkan, “dasar negara gak punya pahlawan… dia kan kemerdekaannya dikasih bukan diperjuangkan! Ya gitu deh… negara kalo gak punya pahlawan, gak punya malu”
“Udah… ganyang aja si malingsia ini” aku.
Teman satu lagi menambahkan, “gampang banget kalau kita mau jahat sama malingsia, kita persenjatai semua TKI yang sudah ada di sana, suruh nembak majikannya satu-satu”
:lol: memang… memang… grundelan kami ini gak penting dan kami memang hanya menyampah.

Kebetulan sekali, pulang dari acara itu, aku membawa satu buku pinjaman dari teman yang berjudul Hidangan Betawi, ini buku resep masak sih sebenernya, tapi yang seru, di buku itu juga ada cerita sejarah makanan itu.
Ada sejarah singkat tentang Jakarta, ada juga beberapa uraian singkat tentang asal mula makanan Betawi, yang mana sebenarnya dalam setiap makanan itu sebenarnya ada pengaruh dari bermacam-macam bangsa, seperti Cina, Arab, India, Portugis, Belanda.
Percaya gak, bahwa sebenarnya nama semur jengkol itu diambil dari bahasa Belanda, smoor, yang berarti dimasak dalam waktu beberapa lama di atas api kecil. Jadi Semur Jengkol adalah, jengkol yang dimasak dalam beberapa lama di atas api kecil. Nah… nah…. seru kan ya… kalo mau detilnya, beli aja tuh bukunya.

Ini baru Betawi ya… pasti di daerah-daerah lain juga banyak kekayaan gastronomi juga budaya yang dipengaruhi oleh bangsa lain yang kemudian berasimilasi menjadi aset kuliner & budaya lokal. Fakta yang diingatkan lagi ke aku ini, membuat aku langsung merasa bangga, bahwa kita tidak pongah dengan serta merta menghilangkan fakta tentang pengaruh-pengaruh bangsa lain yang membentuk aset lokal kita. Mungkin pemikiranku salah, tapi aku bangga aja, menjadi bagian dari orang-orang yang bisa berkata jujur bahwa, budaya kami, mendapat banyak pengaruh dari budaya peradaban lain dan itu menjadikan kami besar. *haiiiyah… kok jadi mbulet gini sih…*

Haaah…. intinya, malingsia, kayaknya memang bukan bangsa yang berbudaya, nggak ngerti sejarah… kalo ngerti sejarah… harusnya dia tau dong, bahwa wajar saja jika ditemukan sedikit budaya Indonesia di wilayah Malaysia karena bukankah dulu mereka pernah menjadi bagian dari kerajaan Majapahit dan Sriwijaya?! Wajar saja jika banyak kekayaan gastronomi mereka yang mirip dengan makanan Indonesia, karena bukankah Sultan-Sultan mereka berasal dari tanah Bukittinggi?!  Lagian, kalo memang banyak kesamaan kosakata pada bahasa Nasional kedua negara, ya wajar bangetlah…. sama-sama berasal dari bahasa Melayu gitu loh… meskipun aku jauh lebih cinta dan lebih enakeun dengar bahasa Indonesia & bahasa Melayu aseli daripada denger bahasa Malaysia… Dan yang pasti…. budaya kan ’sampahnya’ manusia, bagian dari karakter, tingkah laku… proses pembentukannya panjang dan sampai sekarang pasti akan terus berevolusi *halah* bukan barang hasil produksi, kok ya langsung main paten aja sih?! ANEH!
Jadi, nggak tau malu banget sih lo malingsia…
huh….

November 24, 2007

….

Filed under: 0 level, a life's journey, serius gak penting — ruthwijaya @

Ini cerita soal teman baruku di kos. Bukan maksudku untuk ‘menistakan’nya di blog gak penting ini. Aku cuma sedih banget denger cerita dia.

Cewek. Umurnya thirty something. Kamarnya beda beberapa kamar saja dari aku. Pertama kali kenalan, dia mengisyaratkan bahwa dia single, belum bersuami. Aku memang gak terlalu mau tahu sih, kami berteman biasa selama 25 hari sekosan, kalau misalnya aku pulang cepet ya gaul sama dia, biar tak bingung sebut saja namanya Mbak Sedih. Si mbak Sedih bukan tipe cewek yang nyebelin sih, memang dia jutek, samalah ama aku… jutek tapi baik hati gitu :P yah… yang diobrolin juga hal-hal yang ringan-ringan sajah.

Tapi semalam, entah karena kepiawaianku dalam mengorek cerita :lol: atau karena mbak Sedih lagi mellow, terungkaplah cerita bahwa sebenarnya saat ini si Mbak Sedih sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, kita sebut saja si Barokokok.

Yang menjadi sebab perceraian adalah perselingkuhan Barokokok yang untuk ketiga kalinya dan paling parah juga paling membuat mbak Sedih nangis darah. Mereka sudah menikah enam tahun dan untungnya belum punya anak.

Detail ceritanya gak usah aku ceritainlah ya… Terlalu panjang dan mugkin klise juga, hanya saja, aku bisa merasakan sakit hatinya teman baruku itu, aku bisa melihat matanya yang menyimpan amarah sekaligus maaf tapi juga malu akibat penghinaan yang dilakukan Barokokok. Bisa merasakan juga, bagaimana dia yang hidupnya sudah settle dalam kehidupan berumah tangga harus melepaskan semua itu dan memulai semuanya lagi dari nol pada saat usia tidak lagi muda. Memang menyakitkan.

Aku cuma sedih aja… Dan, yang paling sedih buatku, si mbak Sedih bilang, “aku cinta sih ya dulu” sekarang pun, ketika hakim perceraian mengajukan usul untuk rujuk, si mbak Sedih bilang, dia ingin mempertimbangkan usul itu.  Arrrgh…

Begitukah cinta? Jika cinta hanya sejauh sakit hati, airmata…. sebandingkah itu semua dengan tawa sesaat yang pernah dijalani?

Hm… aku sih nggak berani.

Itu mungkin juga yang bikin Bapak Manusia Laut dan aku harus berpisah ya? Kami sama-sama tak berani.

Entahlah.

Aku sedih neeeh…..

November 19, 2007

gombale mukiyo

Filed under: crispy snacks (kriuk!), serius gak penting — ruthwijaya @

Konon katanya, otak manusia itu kecenderungannya adalah mengidentifikasi hal yang satu dengan hal yang lain, saling mengaitkan seperti memintal sarang laba-laba. Aku lupa, aku baca itu dimana, tapi aku punya banyak kejadian yang seperti itu. Misalnya, ketika membaui tanah basah setelah hujan, aku langsung mengidentifikasikan hal itu dengan kampung halaman, memori waktu masih kecil, memandang hujan dari jendela rumah yang pintunya dikunci dari luar. Kalau makan ketoprak, lalu teringat Bapak Manusia Laut, selalu itu. Misalnya jidatku ini layar monitor, setiap ada bau, baca tulisan atau makan ketoprak, pasti di layar akan terbaca Bapak Manusia Laut. Ketoprak dikenali otakku sebagai BML, entah kenapa… mungkin karena BML bau bawang putih? :lol: yaiks… gak deng, karena kami suka makan ketoprak bersama…. halah… Nah, kalau baca gombalannya si Paman, aku selalu teringat banyak hal yang berkaitan dengan kata-kata *adoooh…. penjelasan awal yg panjang ya bo…*.

Dari dulu, setiap membaca, mendengar dan mengatakan kata gombal, aku selalu keinget gombale mukiyo. Errr… dari dulu aku udah pengen membahas ini, tapi gak pas terus, lalu baca posting Paman yang ini, menyeruaklah lagi itu kata-kata gombale mukiyo.

Si mamahku yang agak ajaib itu (ya beda tipislah ama aku :P ) pernah menjelaskan ketika aku keukeuh bertanya, kenapa orang bilang gombale mukiyo, kok bukan gombal amoh saja. Katanya, Mukiyo pada istilah gombale mukiyo ini adalah nama orang. Dia dulunya adalah orang kuuuaya banget di daerah Nganjuk (seriously, ini nama kota ya… bukan ngutang… sumpe… bukan). Si Mukiyo ini, berubah jadi gila ketika ada defiasi (atau inflasi?) rupiah jaman pemerintahan Sukarno, klo menurut bahasa nyokap, “waktu uang seribu jadi serepes”. Nah, si Mukiyo ini, saking shocknya langsung gila trus dia masukin semua uangnya bersama baju-baju gombal trus gombal isi duit ini dieret-eret / ditarik-tarik kemanapun dia pergi. Lalu, mulai orang menjadikannya sebagai istilah, pemakaian istilah itu kurang lebih begini, “lha… umok thok… gombal… kalo gombalanmu kan cuma angin, emangnya gombale mukiyo?! Biar gombal tapi isinya kan duit?!” . Kemudian… pemakaiannya diperpendek menjadi, “halah…. gombale mukiyo!”.

Kalau versi pertama yang diceritakan nyokap adalah isinya uang, maka si bude, kakaknya nyokap, punya versi lain, katanya… gombale Mukiyo, selain berisi uang juga berisi daun-daun yang dianggap Mukiyo sebagai uang.

Nggak tau deh, mana yang benar….

Ada yang tau gak?

Sebenarnya… darimana sih asalnya gombale mukiyo itu? Dan apa si Mukiyo ini bersaudara dengan Mukidin?

September 13, 2007

Tahukah Kamu?

Filed under: crispy snacks (kriuk!), serius gak penting — ruthwijaya @
  1. Tahukah kamu, jika Jepang tidak keburu menguasai Indonesia makaibukota Batavia sudah dipindahkan ke Bandung? Rencananya sih begitu, tahun 1917 pemerintah Hindia Belanda sudahmembuat blue print untukproyek tersebut dan salah satunya adalah proyek pembangunan Gedung Sate.
  2. Tahukah kamu, bahwa masa ‘Parisj Van Java’ adalah pada tahun 1920-1930an? Pada saat itu kayanya Bandung keren banget yak :lol: pokona ti Bandunglah… *wink* sekarang… emh… kalo gak kotor pasti keren deh…
  3. Tahukah kamu, bahwa pada tahun 1933 adalah mulai dibangunnya industri tekstil di Bandung? Walah… sebagai salah satu buruh yang mengasis rejeki di bidang ini, halah, penasaran juga aku sama pabrik tekstil pertama… pabriknya dimana ya? Yuk bikin acara ‘Textile, past 2 future’ halah… isinya, ya sejarah jaman dulu trus juga, jaminan bahwa industri tekstil kita masih bisa diandalkan untuk menjadi sumber devisa… halah… kok ngaco gini yak…
  4. Tahukah kamu, bahwa pada tahun 1939 Bandung memproduksi 90% kebuthan kina dunia? Jangan-jangan… yang butuh Kina cuma Indonesia aja neh… hehehe
  5. Tahukah kamu, bahwa tahun 1941, Bandung menerima 200.000 turis? Wah, padahal belum ada FO loh… brownies kukus Amanda juga belum ada tuh… tapi kalo Bebek Van Java?! :lol:
  6. Tahukah kamu bahwa pada tahun 2000 Asiaweek menempatkan Bandung pada urutan ke-26 dari 40 Asia’s best cities? Kalau gak tau… wajarlah… aku juga gak nyangka :lol:
  7. Tahukah kamu, bahwa tahun 2001 Bandung menduduki peringkat 9 dari 10 World’s Great Cities of Art Deco? Wow!!!

Sebenernya, di luar ‘prestasi’ sampah dan macet, Bandung menyimpan banyak potensi loh… udah deh, gak usah muluk-muluk, bikin Bandung bersih dan menjaga apa yang sudah ada saja, jangan dirusak… itu kayaknya juga udah cukup deh, mulai dari diri kita deh… Trus… jangan bikin Bandung makin panas dengan memperbanyak hunian di wilayah Bandung Utara, stop penebangan hutan untuk bikin apartemen yang aku cuma bisa liat brosurnya aja itu… soale kalo beli belum mampu :D

August 1, 2007

Bohong putih

Filed under: crispy snacks (kriuk!), serius gak penting — ruthwijaya @

Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, aku ngobrol dengan teman yang bercerita tentang temannya (jadi temennya temen :P ) yang dulu sempat bekerja di perusahaan yang sama dengan kami saat ini namun beda divisi, sebut saja namanya Mbak Jujur. Kata temenku, si Mbak Jujur ini, bekerja sebagai marketing dan disupervisi oleh bos-ku yang sekarang ini, wah… aku langsung ’searching file’ di otakku, soalnya si bos selalu cerita tentang mantan anak buahnya, termasuk jika ada kejadian-kejadian unik gitu. Konon cerita, suatu ketika si Mbak Jujur dimarahi oleh customer karena dia jujur mengatakan bahwa barangnya belum dikirim, ketika si bos tahu, dia menyarankan si Mbak Jujur untuk bohong dan mengatakan bahwa container on the way, cuma nggak bisa tracking. Si Mbak Jujur yang memang memegang teguh kejujurannya kekeuh tidak mau untuk berbohong, akhir cerita, si bos-lah yang mengarang cerita untuk si customer ini. Cerita ini, rupanya sama dengan yang pernah diceritakan oleh si bos, hanya beda kata-kata sajah. Dan jika si bos mengakhiri ceritanya dengan kata-kata “what a character… she was really cannot lie”, maka temanku malah berkata, “susah atuh jadi marketing kalau nggak mau bohong mah…”

Okay… point noted. Susah atuh jadi marketing kalau nggak mau bohong mah…

Haruskah marketing selalu berbohong? Jadi ingat salah satu judul buku Seth Godin, Marketings are liars. Aku belum pernah baca bukunya sih, cuma lihat covernya saja :D

Aku pribadi, berpendapat, apapun profesi yang kujalani, tidak sebaiknya melakukan kebohongan. My boss was right, lie is part of your character. Jadi, selama ini aku sama sekali nggak pernah bohong ke customer? Well, kalau kepepet mah iya! Huhehehehe

Tapi nggak juga sih.

Seperti yang selalu aku bilang sama semua orang, strategi marketing yang aku pakai cuma satu, yaitu menjual diri sebaik mungkin :D . Pembeli bisa mendapatkan kain dengan spesifikasi & dan harga yang sama dari pabrik mana saja (yang jumlahnya banyak banget di Indonesia), yang membedakan adalah, siapa yang jadi marketingnya :D apakah dia akan care dengan quality, price, kebutuhan customer yang lainnya, service dan… enak dilihat ato nggak :D huehehehe

Pertama yang aku jual dari ‘aku’ adalah, I am your trustworthy supplier. Sebisa mungkin aku memilih untuk tidak berbohong, karena bohong itu tidak akan pernah berakhir, bohong yang satu akan ditutupi oleh bohong yang lain, sangat tidak menyenangkan, eh… jangan salah, ini nggak cuma berlaku di your personal life loh… di pekerjaan juga. Aku selalu berusaha jujur ke customer.

Wah, susah atuh jadi marketing kalau nggak mau bohong mah, gimana kalau quality jelek? Nggak bisa jualan atuh kalo jujur itu barangnya jelek. Gimana kalau pengiriman telat trus customernya marah-marah?

Ah, what a good point.

Kami, para marketing *halah* selalu berada pada kondisi ‘harus’ berbohong demi tugas dan kewajiban *bahasanya canggih bener, mbak*. Tapi, aku menganggap, kami tak perlu harus berbohong jika kita bisa memilih untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya sekaligus tidak berbohong. Waduh… kamsudnya gini, ada banyak kata-kata yang bisa kita pilih untuk menyampaikan maksud kita, dan manfaatkanlah itu. Selama ini, trik itu cukup berhasil menyelamatkanku dari situasi macam begitu. I am saved by the words… halah…

So, bohong tetap nggak bisa diaplikasikan dalam pekerjaan apapun, ada tanggung jawab moral. Orang mungkin nggak tahu kita bohong. Dan untuk menutupi rasa bersalah, kita bisa aja bilang, “ah ini kan bohong demi kebaikan” tapi apanya yang baik kalau dibohongi, kebaikan dengkulmu kuwi :D

Marketing nggak selalu harus mau bohong, Sales juga. Malah, profesi-profesi inilah yang seharusnya jadi yang paling jujur, supaya bisa mengajari pasar mengenali mana barang yang bagus, mana barang yang jelek, mana marketing / sales yang memang bisa handle their account dan mana yang cuma bisa ngoceh gak karuan. Termasuk ngajarin mana yang enak dilihat dan mana yang enggak ya? Halah! Nyindir!

Tapi, marketing kan mesti gombal… susahlah urusan sama orang dengan profesi kayak gini, kalau jadi pacar kayanya nyusahin… gombal terus…

Lhoh… si Paman juga gombal, malah lebih gombalan dia daripada aku :D . Nggak kok, marketing & sales tuh seharusnya memang tulus, serius ini… harus tulus.

Jadi, nggak perlu takutlah punya pacar marketing, tidak semua marketing people itu gombal thok, contohnya aku :D

Intinya posting ini apa mbak?

Emang bohong punya warna? Itu intinya!

Blog at WordPress.com.